Datateks.id, Jakarta — Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah ritual. Dalam sejarah Islam, bulan suci ini justru menjadi momen krusial yang mengguncang peradaban manusia; Penuh keteladanan, asal muasal turunnya wahyu, kemenangan di tengah peperangan, serta lahirnya ampunan dan Rahmat yang melimpah.
Ketiga peristiwa besar ini menegaskan posisi Ramadhan sebagai titik balik peradaban, jauh melampaui rutinitas spiritual belaka. Mari kita telusuri lebih dalam!
- Turunnya Wahyu: Revolusi Ilmu dan Kesadaran
Allah SWT berfirman dalam potongan ayat QS Al-Baqarah:185:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ
Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.
Ayat ini secara tegas menegaskan hubungan Ramadhan dengan Al-Qur’an,
sebagaimana mayoritas ulama tafsir menjelaskan bahwa wahyu suci mulai diturunkan pada malam Lailatulqadar di bulan Ramadhan. Peristiwa turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW di Gua Hira diriwayatkan secara sahih dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Aisyah r.a.
Dengan turunnya ayat pertamaاِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ (QS Al-‘Alaq [96]:1), peristiwa ini menjadi fondasi peradaban umat Islam; iman yang berlandaskan ilmu. Ramadan dengan demikian bukan sekadar bulan menahan diri, melainkan bulan membangun kesadaran intelektual dan spiritual.
- Perang Badar: Pembeda antara Kebenaran dan Kebatilan
Pada 17 Ramadhan tahun 2 Hijriah, Perang Badar yang disebut Al-Qur’an sebagai Yaumul Furqon (QS Al-Anfal: 41) terjadi sebagai pertempuran pertama umat Islam. Pasukan Muslim berjumlah 313 orang berhadapan dengan pasukan Quraisy sebanyak 1.300 prajurit, tetapi tetap menang meskipun kalah jumlah empat kali lipat.
Kemenangan gemilang ini menjadi tonggak sejarah pertama umat Islam mengalahkan kekuatan politeisme Quraisy.
Allah SWT berfirman dalam QS Al-Anfal: 9 tentang bala bantuan malaikat:
اِذْ تَسْتَغِيْثُوْنَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ اَنِّيْ مُمِدُّكُمْ بِاَلْفٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ مُرْدِفِيْنَ
“(Ingatlah) ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu Dia mengabulkannya) bagimu (seraya berfirman), “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu berupa seribu malaikat yang datang berturut-turut.”
melalui Perang Badar, disitat datateks dari laman resmi MUI Digital, Allah SWT membuktikan kasih sayang-Nya kepada umat Islam. Logika akal sehat menolak 313 pasukan Muslim untuk mengalahkan 1.300 prajurit Quraisy, namun kemenangan ini murni atas izin Allah SWT.
Ini mencatat kemenangan pada Perang Badar bukan ditentukan oleh kekuatan materi, melainkan oleh keimanan, kedisiplinan, dan tawakal kepada Allah SWT.
Ramadan dengan demikian menjadi bulan pembuktian: iman tidak berhenti pada ibadah personal. Namun juga diwujudkan dalam keberanian membela kebenaran.
- Fathu Makkah: Kemenangan yang Ditegakkan dengan Rahmat
Pada 20 Ramadhan tahun 8 Hijriah, Rasulullah SAW memimpin 10.000 pasukan untuk membebaskan Makkah tanpa pertumpahan darah. Ini menjadi saksi peristiwa paling bermakna dalam Fathu Makkah. Hal tersebut bukan ajang balas dendam atas pengusiran dan penindasan selama 13 tahun di Makkah Muazzamah yang selama ini menjadi musuh, namun beliau justru melakukan pengampunan umum dan menegaskan kemenangan Islam sebagai bentuk penguasaan diri di puncak izzah atau kehormatan kemuliaan derajat tertinggi.
Istilah al-fathu dari akar fataha-yaftahu-fathhan (membuka/menang) merujuk pembebasan damai ini ((QS Al-Fath : 1: اِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِيْنًا, artinya “Sesungguhnya Kami anugerahkan kepadamu kemenangan nyata”), bukan ghazwah (perang serbuan).
Meski ayat turun dua tahun sebelumnya via Perjanjian Hudaibiyah. Peristiwa ini dipicu pelanggaran Quraisy terhadap gencatan senjata: Bani Bakr (sekutu Quraisy) menyerang Bani Khuza’ah (sekutu Muslim), hingga Makkah jatuh tanpa perlawanan signifikan. Demikian disitat datateks dari laman resmi NU Online, Hikmah Fathu Makkah di Bulan Ramadan.
Sikap ini menegaskan kemenangan sejati dalam Islam bukanlah dominasi, melainkan kemampuan menahan diri saat berada di puncak kekuasaan.
Kesimpulan
Ketiga peristiwa tersebut menunjukkan bahwa Ramadhan adalah bulan transformasi spiritual sekaligus sosial. Wahyu melahirkan kesadaran, Perang Badar melahirkan keteguhan, dan Fathu Makkah melahirkan keluhuran akhlak. Di tengah tantangan zaman modern, seperti krisis integritas, disrupsi informasi dan disinformasi, serta polarisasi sosial, nilai-nilai Ramadan ini tetap relevan untuk membangun peradaban baru, dimulai dari iman yang kokoh, ilmu yang benar, dan akhlak yang luhur.
Ramadhan bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan momentum tazkiyatun nafs (pemurnian jiwa) dan tajdīd al-‘ahd (pembaharuan komitmen iman terhadap perjanjian dengan Allah Swt). Sejarah telah membuktikan bahwa perubahan besar selalu lahir dari hati yang tunduk kepada wahyu dan jiwa yang siap berjuang di jalan-Nya. (DTT/HF)












