HIBURAN

Odong-Odong: Hiburan Murah Andalan Warga Jatinegara Jaktim

×

Odong-Odong: Hiburan Murah Andalan Warga Jatinegara Jaktim

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi motor odong-odong, AI.
Ilustrasi motor odong-odong, AI.

Datateks.id, Jakarta –– Odong-odong motor kini telah menjadi bagian alat transportasi alternatif yang tak terpisahkan dari kehidupan warga di kawasan Rumah Susun (Rusun), Jatinegara Barat, Rawa Bunga, dan Kampung Pulo, Jakarta Timur.

Kendaraan yang ditarik sepeda motor dengan gerbong warna-warni dan dihiasi dengan musik ceria, sekaligus hiburan bagi kalangan anak maupun ibu rumah tangga. Terutama di tengah keterbatasan ruang bermain serta akses kendaraan umum.

Warga sekitar, seperti Suci dan Aminah sering memanfaatkannya. Pasalnya, biaya terjangkau, hanya Rp2.000 hingga Rp5.000 per orang.

Baca Juga:  Jenderal Listyo Sigit Beri Apresiasi ke Atlet Polri dan Non-Polri yang Berprestasi di SEA Games 2025

Dengan tarif tersebut, penumpang bisa berkeliling dari rusun menuju Kampung Pulo, Bukit Duri, dan kembali lagi ke rusun. Selain berkeliling, Suci menambahkan mobil odong-odong kadang juga bisa mengantar warga ke pasar.

“Kita biasa kalau mau ke pasar juga bisa,” ucap Suci, baru-baru ini.

Fungsi Lain

Bukan cuma itu. Odong-odong juga berperan sebagai sarana antar-jemput sekolah bagi sekitar 50 anak relokasi dari Kampung Pulo. Ketua Rukun Tetangga (RT) setempat, Warji, menyebut kendaraan berkapasitas 15 orang ini membantu orang tua yang sibuk bekerja atau tak punya kendaraan pribadi.

Meski demikian, biaya Rp2.000 sekali jalan dianggap memberatkan lantaran harus ditambah ongkos pulang. Warji telah mengusulkan bus sekolah gratis ke pihak kecamatan.

Sementara itu, Camat Jatinegara, Budi Setiawan menyatakan usulan serupa sudah ia sampaikan ke Dinas Perhubungan dan sedang diproses, meski waktunya belum pasti. Padahal, rusun sudah menyediakan bus sekolah gratis dan TransJakarta, tapi odong-odong tetap laris, terutama pada sore hari.

Bagi sopir seperti Hendri, Soleh, dan Kamal, odong-odong menjadi sumber nafkah sekalipun tak menentu.

Soleh (71), misalnya. Ia mengeluhkan setoran harian Rp70.000 dan manuver sulit di gang, ditambah pengalaman penertiban saat pandemi. Adapun Kamal (54) memilih profesi ini lantaran sulit dapat pekerjaan tetap di usia lanjut.

Kendaraan buatan sendiri seharga Rp2 juta ini mampu mengangkut 8 penumpang. Menyusuri Jalan Jatinegara Timur I-IV, Kober, hingga Pasar Loak Jembatan Item, sambil disambut lambaian anak-anak.

Kehadiran odong-odong mencerminkan kreativitas warga menghadapi kepadatan permukiman. Kendati, berbagi ruas jalan dengan angkutan kota (angkot) ataupun sepeda motor. (DTT/HF)