HEADLINEHIBURAN

Beatbox: Satu Mulut Ciptakan Beribu Efek, Simak Perkembangan di Indonesia

×

Beatbox: Satu Mulut Ciptakan Beribu Efek, Simak Perkembangan di Indonesia

Sebarkan artikel ini

Datateks.id, Jakarta — Bayangkan, hanya bermodalkan mulut, bibir, dan napas, seseorang mampu menyulap irama drum hingga bas menggelegar seperti orkestra sungguhan, itulah pesona beatbox.

Seni vokal perkusi yang lahir dari keterbatasan, tapi kini mengguncang panggung dunia. Di Indonesia, hobi “aneh” ini justru menyatukan komunitas dan melahirkan bintang-bintang muda yang kreatif, inovatif, hingga berprestasi.

Mengapa Beatbox? Kenapa Tidak Musik Konvensional?

Pada umumnya, musik konvensional membutuhkan alat mahal dengan modal besar, di antaranya listrik yang stabil dan panggung mewah. Dibandingkan beatbox, yang hanya mengandalkan pernapasan melalui diafragma, bibir, lidah, tenggorokan, hidung, plus kreativitas. “Kenapa harus beatbox, kenapa tidak musik saja?” jawabannya: beatbox adalah seni mulut yang bisa dilakukan secara fleksibel total, dimainkan kapan saja, di mana saja, bahkan saat mati lampu.

Baca Juga: Syukuran HUT ke-18 Gerindra di Rumah Kertanegara, Begini Pesan Prabowo

Idealisme beatbox terletak pada inovasi manusia: tiru bas menggelegar hingga robot futuristik, kolaborasi lintas genre seperti hip-hop, jazz, drum and bas, bahkan tingkat dangdut maupun keroncong. Bandingkan dengan musik rock yang membutuhkan band lengkap. Sementara di era digital saat ini, beatbox solo sudah cukup, hemat biaya, bahkan hanya butuh main idea dan konten, seperti beatbox viral lewat TikTok, tutorial YouTube, dan battle live Instagram. Nol biaya alat, tapi ekspresif pun tak terbatas. Lantaran itulah, seni ini mendorong improvisasi spontan, beda dengan musik kaku partitur.

Tata cara beatbox jauh lebih mudah daripada musik. Untuk pemula, cukup kuasai tiga fondasi: B (bas/kick drum), T (hi-hat), dan K (snare). Cara simpel: latihan pola B-T-K-T (bass-hi-hat-snare-hi-hat) pakai metronom 80 BPM, napas diafragma, lalu tahan 5 menit nonstop. Dibandingkan gitar dan biola yang membutuhkan senar, fret, amp, beatbox nol alat, tapi hasil 100% mirip mesin drum.

Lahirnya Indobeatbox, dari Kosan Papua ke Panggung Berlin

Di Indonesia, beatbox modern mekar pada 2004-2005 melalui YouTube secara autodidak. Adalah Billy Bdabx (Willem Carolus Christopherson Tamnge), pendiri beatbox di Indonesia sekaligus pemuda Papua yang pindah ke Jakarta. Dia melanjutkan kuliah di Universitas Kristen Indonesia, lalu bertemu dengan Tito dari Fade 2 Black sekaligus perintis Jakarta Beatboxing Community (JBC) pada 4 Desember 2007 . Pertemuan via online melalui grup di media sosial Friendster. Kini, JBC menjadi The Indonesian Beatboxing Community (Indobeatbox).

Meski awalnya diejek teman kampus, Billy tetap asyik menjelajah YouTube untuk meniru gaya Doug E. Fresh, legenda hip-hop asal Amerika yang dikenal sebagai human beatbox. “Pas belajar, gue nemuin banyak kendala. Salah satunya, gue diejek teman kampus. Menurut mereka, gue memainkan sesuatu yang aneh,” Billy menuturkan, dikutip datateks.

Puncak epik pada 26 Oktober 2008,. Kala itu Goethe-Haus Jakarta memutar film dokumenter Peace, Love and Beatbox dihadiri juara Jerman, Daniel Mandolini (Mando). Pemutaran film itu memicu lahirnya Indonesian Beatboxing Community (Indobeatbox/IBC). Awalnya, panitia bingung mencari beatboxer lokal, lalu hubungi Mas Indra Aziz via wall group.

Dia yang pertama tahu kedatangan Mando berbulan-bulan sebelumnya. Dari jelajah di YouTube, Indra, anggota Indobeatbox, kagum, “Wedeuh, juara nasional Jerman dua kali!” ucap Indra.

Dag dig dug, pertemuan pertama antarbeatboxer Jakarta itu melahirkan komunitas raksasa. Kini, puluhan ribu anggota Facebook. Selanjutnya lahirlah komunitas cabang. Di antaranya Aceh Beatboxing Community (ABC), Bekasi Beatboxing Community (BBC), Karawaci Beatboxing Community (KBC), dan lain-lain. Namun, di balik itu, Billy, sang “raja”, mewakili RI di Beatbox World Championship Berlin: kisah heroik dari kosan Papua ke sorotan Eropa.

Tidak hanya itu, penyanyi top mulai aktif tampil dengan iringan beatbox. Billy iringi Giselle dan Marcell di acara Hitam Putih TransTV; kolaborasi ikonik yang bikin beatbox viral di TV nasional. Maka, tren human beatbox pun kembali mekar jaya: dari hip-hop ala Fade 2 Black, gospel gereja (akar Billy), hingga adaptasi keroncong lokal. ”Setiap penyanyi dan penari yang tampil di acara Hitam Putih pasti gue iringi dengan alunan beatbox,” ujar Billy.

Evolusi Generasi Emas: Menuju Marvelous

Puncak kebanggaan, Marvelous merebut juara 2 Grand Beatbox Battle U18 Tokyo 2023 sebagai wakil Indonesia pertama. Ia sukses mengalahkan 8 beatboxer top dari berbagai negara (seperti Korea Selatan: Serpent di perempat final dan Wand di semifinal) untuk tembus final sebelum kalah dari Julard (Prancis).

Ini membuktikan: dari nol alat JBC 2007 hingga level podium internasional, statistik Indobeatbox klaim RI punya beatboxer terbanyak di Asia Tenggara. Satu mulut ciptakan beribu efek? Ternyata, benar adanya.

Beatbox Indonesia: idealisme keterbatasan jadi keajaiban global. Mulai BTK hari ini, siapa tahu Marvelous berikutnya? (DTT/HF)