Datateks.id, Padalarang – Bayangkan sebuah gerobak cuanki mini seukuran mainan anak, lengkap dengan panci mini yang mengeluarkan uap harum. Gerobak itu mampu menyulap tumpukan barang bekas menjadi ladang cuan harian hingga 150 porsi.
Di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Deden Mahfud Aliyudin (43), seorang kreator konten dan penjual cuanki mini asal Desa Bojongkoneng, Kecamatan Ngamprah, telah membuktikan ukuran kecil bisa menumbuhkan mimpi besar bagi keluarganya.
Disitat dari Instagram akun @bemp777, cerita Deden bermula dari keterbatasan. Ia tinggal di rumah sederhana yang dipenuhi kayu bekas, lemari tua, serta potongan logam, lalu mengubahnya menjadi aset berharga. Sejak 2017, Deden aktif di TikTok, bereksperimen dari video acak, live streaming game, hingga spesialis miniatur rumah tradisional di studio kecil 2×3 meter miliknya.
Detail miniaturnya menakjubkan. Betapa tidak? Dalam kreativitasnya, ia mampu menciptakan ruang tamu bergaya Indonesia masa Orde Baru, dapur dengan pawon berapi mini, televisi jadul, hingga kamar mandi era Soeharto. Semuanya dilengkapi suara dan suasana autentik.
Hadapi Ujian, Lahirkan Gebrakan Unik
Persimpangan datang saat ekonomi keluarga tertekan. Deden sempat ragu melanjutkan karier digital atau beralih pekerjaan biasa. “Sempat kepikiran menyerah, cari kerja lain. Tapi, saya bilang ke diri sendiri, kalau ini memang jalan saya, ya harus saya seriusin sampai mentok,” ucap Deden.
Hingga akhirnya, ia bertahan, memodifikasi barang bekas menjadi gerobak cuanki supermini dengan rasio 1:14. Bukan sekadar hiasan, gerobak itu fungsional. Bisa memasak bakso, siomai, tahu, hingga bumbu kecap mini.
Proses pembuatan membutuhkan 5-7 hari per unit agar setiap detailnya menyerupai versi asli. Konten pertama direkam di trotoar baru Padalarang, lalu viral. Kini, ia berjualan di depan Stasiun Padalarang hingga dikerumuni warga, termasuk anak-anak dan ibu rumah tangga. Harga Rp1.000 per porsi. Ludes 100-150 porsi sehari, bahkan 30 porsi habis dalam sejam saat keliling kampung.
Pembeli cuanki mini, pun takjub, “Unik sekali, mangkuknya benar-benar kecil. Rasanya tetap enak seperti cuanki biasa, tapi makannya jadi pengalaman yang beda buat seru-seruan di medsos,” tutur Vani, warga setempat.
“Idenya karena jualan cuanki gerobak biasa sudah terlalu banyak. Saya ingin sesuatu yang baru dan unik agar orang tertarik,” Deden menambahkan.
Viralitas ini bukan akhir. Pulang jualan, Deden tetap merakit miniatur, sementara istrinya kini ikut live streaming dari rumah. “Buat orang lain mungkin ini cuma cuanki kecil. Buat saya, ini usaha buat tetap berdiri, buat anak istri,” kreator konten dan penjual cuanki mini tersebut menegaskan.
Kisahnya jadi inspirasi: dari rongsokan di kampung asri, ketekunan dan kreativitas membuka rezeki, pelan tapi pasti. (DTT/HF)
Tulisan ini dibuat dengan bantuan AI dan melalui proses editing.
