EKONOMIHEADLINEPERISTIWAPOLITIK

Chusnunia DPR Ingatkan Pemerintah Antisipasi Dampak Penutupan Selat Hormuz

×

Chusnunia DPR Ingatkan Pemerintah Antisipasi Dampak Penutupan Selat Hormuz

Sebarkan artikel ini
Wakil Ketua Komisi VII DPR Chusnunia Chalim. (Sumber Foto: Farhan/Karisma/dpr.go.id)
Wakil Ketua Komisi VII DPR Chusnunia Chalim. (Sumber Foto: Farhan/Karisma/dpr.go.id)

Datateks.id, Jakarta — Wakil Ketua Komisi VII DPR Chusnunia Chalim mengingatkan pemerintah untuk mengantisipasi dampak penutupan Selat Hormuz bagi Indonesia. Terutama sebagai dampak dari Perang Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel membuat pihak Teheran menutup Selat Hormuz.

Menurut Chusnunia, adanya penutupan Selat Hormuz dan pembatasan kapal komersial di kawasan tersebutnberpotensi mengganggu jalur perdagangan global. Sekaligus memicu kenaikan biaya logistik dalam waktu dekat.

“Selat Hormuz merupakan jalur strategis perdagangan global yang menjadi pintu keluar-masuk utama minyak dan komoditas dari kawasan Teluk. Yang artinya gangguan di jalur ini tidak hanya mempengaruhi perdagangan internasional,” ucap Chusnunia dalam keterangan keterangan tertulis, disitat datatteks pada Selasa (3/3/2026) dari laman resmi DPR.

Baca Juga: Dukung Timnas Indonesia: Buruan Jangan Sampai Kehabisan Tiket FIFA Series 2026!

Chusnunia pun menyebut situasi ini pasti berdampak kepada para pelaku usaha di mana situasi ini berpotensi pada peningkatan biaya perdagangan akibat eskalasi konflik. “Dampaknya, biaya impor dan ekspor Indonesia berpotensi meningkat. Terlebih Indonesia, sebagai negara yang masih bergantung pada impor minyak mentah untuk memenuhi kebutuhan energinya.”

Potensi Lonjakan Harga Minyak Dunia

Lebih jauh Chusnunia mengatakan, penutupan Selat Hormuz berpotensi memicu kenaikan harga minyak dunia secara signifikan. Satu di antaranya adalah setiap kenaikan harga minyak sebesar USD1 per barel di atas asumsi pemerintah dapat menambah beban negara sekitar Rp10,3 triliun.

“Kenaikan harga energi akan meningkatkan biaya transportasi, manufaktur, dan pertanian, yang pada gilirannya akan meningkatkan harga barang dan jasa secara keseluruhan,” legislator Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa itu memaparkan.

Ia pun memprediksi, sektor pariwisata juga dapat terkena dampak negatif. Sebab, kenaikan harga tiket pesawat dan biaya akomodasi dapat mengurangi minat wisatawan untuk berkunjung ke Indonesia. Eskalasi konflik di Timur Tengah penutupan Selat Hormuz merupakan ancaman serius bagi dunia usaha di Indonesia.

Momentum Percepat Transformasi Ekonomi

Menurut Chusnunia, dampak negatif dari gangguan pasokan energi dan logistik dapat merambat ke berbagai sektor ekonomi dan menghambat pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Sekalipun demikian, penutupan Selat Hormuz menjadi momentum bagi Indonesia untuk mempercepat transformasi ekonomi menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan, efisien, dan mandiri.

“Pemerintah dan dunia usaha perlu mengambil langkah-langkah mitigasi risiko dan strategi adaptasi yang komprehensif. Pemerintah perlu menciptakan kebijakan yang mendukung dan memberikan insentif kepada dunia usaha untuk melakukan diversifikasi sumber energi, meningkatkan efisiensi energi, dan mengembangkan industri substitusi impor,” Chusnunia memungkasi. (DTT)