Datateks.id, Teheran — Iran akhirnya menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi barunya. Penunjukan ini berselang lebih dari seminggu pascapembunuhan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan pertama gabungan Amerika Serikat-Israel. Serangan yang menjerumuskan seluruh kawasan ke dalam perang meluas.
Al Jazeera melansir, Mojtaba Khamenei yang kini berusia 56 tahun itu akan diberi tugas memimpin Republik Islam melewati krisis terbesar dalam sejarahnya yang berusia 47 tahun. Pada Minggu, 8 Maret 2026 waktu setempat, Mojtaba dinobatkan oleh para ulama yang tergabung dalam Majelis Pakar sebagai pengganti sang ayah.
Majelis Pakar yang beranggotakan 88 orang itu mengatakan, mereka “tidak ragu sedetik pun” dalam memilih pemimpin tertinggi yang baru. Terutama terlepas dari agresi brutal Amerika Serikat dan rezim Zionis.
Baca Juga: 5 Rapat Digelar di Hambalang, Bahas Apa Saja?
Para pemimpin kunci, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran yang berpengaruh, dan angkatan bersenjata dengan cepat menyatakan dukungan mereka kepada pemimpin baru tersebut. Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, yang telah ditugaskan untuk mengarahkan strategi keamanan Iran sejak AS dan Israel melancarkan serangan besar-besaran mereka, menyerukan persatuan di sekitar pemimpin tertinggi yang baru.
Pun demikian Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf menyambut baik pilihan tersebut. Dia mengatakan, mengikuti pemimpin tertinggi yang baru adalah “kewajiban agama dan nasional”.
Mojtaba Khamenei tidak pernah mencalonkan diri untuk jabatan publik atau mengikuti pemilihan umum, Namun, putra kedua dari Ali Khamenei itu selama beberapa dekade telah menjadi tokoh yang sangat berpengaruh di lingkaran dalam pemimpin tertinggi, Bahkan, membina hubungan yang erat dengan IRGC.
Dalam beberapa tahun terakhir, Mojtaba Khamenei semakin sering disebut-sebut sebagai calon pengganti utama ayahnya. Pemilihannya bisa menjadi pertanda faksi-faksi garis keras dalam pemerintahan Iran masih berkuasa. Bisa pula mengindikasikan pemerintah kurang berminat untuk menyetujui kesepakatan atau negosiasi dalam jangka pendek karena perang memasuki minggu kedua.
Ulasan Al Jazeera
Ali Hashem dari Al Jazeera menggambarkan Khamenei sebagai “penjaga gerbang ayahnya”.
“Ia mengadopsi posisi ayahnya terkait Amerika Serikat, terkait Israel. Jadi kita mengharapkan seorang pemimpin yang konfrontatif. Kita tidak mengharapkan sikap moderat,” Hashem mengulas.
“Namun, jika perang ini berakhir dan dia masih hidup, dan dia mampu terus memimpin negara, akan ada potensi besar… untuk menemukan jalur baru bagi Iran,” Hashem menambahkan.
Pembangkangan Teheran
Rami Khouri, seorang peneliti kebijakan publik terkemuka di Universitas Amerika Beirut, mengatakan pengangkatan Khamenei menandakan “kontinuitas.” Dan masih harus dilihat apakah pemimpin tertinggi yang baru akan mendorong negosiasi untuk mengakhiri perang.
Bagaimanapun juga, menurut Khouri, pengangkatan itu adalah “tindakan pembangkangan.”
“Iran “memberi tahu Amerika dan Israel, ‘Kalian ingin menyingkirkan sistem kami? Nah, ini adalah orang yang lebih radikal daripada ayahnya yang dibunuh,'” kata Khouri.
Adapun Heidari Alekasir, anggota Majelis Pakar yang bertugas memilih pemimpin tertinggi, mengatakan kandidat tersebut dipilih berdasarkan nasihat mendiang Khamenei bahwa pemimpin tertinggi Iran harus “dibenci oleh musuh” alih-alih dipuji olehnya.
Sikap AS dan Israel
“Bahkan, AS pun menyebut namanya,” ujar ulama senior itu merujuk pada pernyataan Presiden AS Donald Trump sebelumnya bahwa Mojtaba Khamenei akan menjadi pilihan yang “tidak dapat diterima” baginya untuk memimpin Iran.
Militer Israel sebelumnya telah memperingatkan penerus mana pun dipilih Iran. Maka, mereka tidak akan ragu untuk menargetkan pemimpin tertinggi yang baru.
Pada hari yang sama, Presiden Donald Trump kembali berjanji memberikan pengaruh atas siapa yang dipilih sebagai pemimpin tertinggi Iran berikutnya. Trump menegaskan, tanpa persetujuan Washington, siapa pun yang dipilih untuk peran tersebut “tidak akan bertahan lama.” Dengan kata lain, pemilihan putra Khamenei pasti akan membuat Trump geram. (DTT)












