Datateks.id, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan kondisi fiskal Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 masih relatif aman meski nilai tukar rupiah terus mengalami tekanan dan sempat menyentuh level terlemah sepanjang sejarah.
Pada Selasa (12/5/2026) pukul 10.04 WIB, nilai tukar rupiah tercatat sempat anjlok ke level Rp 17.521 per dolar Amerika Serikat (AS). Angka tersebut jauh melampaui asumsi makro nilai tukar dalam APBN 2026 yang berada di kisaran Rp 16.500 per dolar AS.
Meski demikian, Purbaya menegaskan pemerintah telah mengantisipasi potensi pelemahan rupiah dalam penyusunan postur APBN tahun depan.
“Pada waktu kita hitung itu, kita asumsinya sudah di atas APBN untuk rupiahnya, enggak jauh sama yang sekarang. Jadi APBN-nya masih relatif aman,” ujar Purbaya kepada awak media di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa (12/5/2026).
Purbaya mengatakan pemerintah tetap menyerahkan pengendalian stabilitas nilai tukar kepada Bank Indonesia selaku otoritas moneter.
“Kita serahkan ke ahlinya, Bank Sentral. Saya pikir mereka akan bisa mengendalikan rupiah dengan baik,” katanya.
Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap arus keluar modal asing (capital outflow) serta sentimen global yang masih membayangi pasar keuangan domestik.
Pada saat yang sama, pasar saham juga mengalami tekanan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat melemah 1,43% pada sesi I perdagangan Selasa (12/5/2026), seiring pelemahan rupiah yang menembus level Rp 17.500 per dolar AS.
Sejumlah analis sebelumnya mengingatkan bahwa kombinasi tekanan global dan faktor domestik berpotensi mendorong rupiah bergerak menuju level Rp 18.000 per dolar AS apabila volatilitas pasar terus berlanjut.









