Datateks.id – Ilmu apabila diartikan secara terpisah, maka dapat diartikan sebagai kata dasar ilmu. Ilmu berasal dari serapan bahasa Arab yaitu, ‘allama artinya pengetahuan. Sementara “ilmu” dalam perspektif bahasa Indonesia adalah pengetahuan dalam bidang tertentu yang dilakukan secara sistematis.
Ketika ilmu dan pengetahuan digabungkan, maka dapat disimpulkan secara sederhana sebagai kegiatan yang menyelidiki, meningkatkan, menemukan, dengan tujuan membawa pemahaman kepada pelakunya. Seperti seseorang yang lapar, ia akan memenuhi perutnya dengan makanan. Begitupun dengan para ulama atau pencari ilmu, mereka memiliki rasa ingin tahu sebagai kebutuhannya.
Menurut Muhammad Hatta, ilmu pengetahuan adalah pengumpulan informasi secara teratur yang berkaitan dengan kerja hukum adat, mengkaji sebab dan akibat dari suatu masalah yang muncul.
Dalam kamus umum bahasa Indonesia, ilmu diartikan sebagai pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara tersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di bidang pengetahuan tersebut.
Dalam A Dictionary of Modern written Arabic, ilmu diartikan bermacam-macam: knowledge (Pengetahuan), Learning (pembelajaran), lore (adat dan pengetahuan), cognizance, (pengakuan), intelectualitation (pemikiran akal), perception (tanggapan).
Menurut Syeikh Muhammad bin Shalih bin Utsman: “Secara Bahasa, ilmu adalah menghilangkan kebodohan dan juga berarti temuan tentang sesuatu secara pasti dan tidak meragukan.”
Di dalam Al-Qur’an telah dijelaskan pula bahwa orang yang mencari ilmu akan ditinggikan derajatnya oleh Allah SWT. Pada surat Al-Mujadalah ayat 11 yang memiliki arti “Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Adapun menurut istilah sebagian ahli, ilmu adalah mengetahui sesuatu, sebagai lawan dari bodoh; sebagian yang lain berpendapat, bahwa Ilmu adalah hal yang lebih dibandingkan dengan yang diketahuinya oleh seseorang.
Jika mengikuti uraian di atas dapat diketahui bahwa hakikat ilmu adalah teori, konsep, ide, pemikiran atau gagasan yang timbul dari kerjasama panca indera dan akal dalam memahami berbagai objek kajian. Ada yang menyebutnya sebagai wahyu yang menimbulkan religius, sesuatu pengetahuan, alam semesta, alam semesta yang menghasilkan ilmu (sains), fenomena sosial yang menghasilkan ilmu sosial, esensi dari segala sesuatu yang dihasilkan filsafat. Menurut pandangan Islam, semuanya berasal dari Tuhan, meskipun berbeda hakikat dan sifatnya, karena segala sesuatu diciptakan oleh Tuhan.
Karena sifatnya inilah, informasi ini memiliki arti yang berbeda sesuai dengan kesepakatan para ahli. Namun, istilah-istilah ilmiah ini sebagai konsep yang harus dikuasai oleh para ilmuwan untuk mendukung interaksi dan komunikasi yang lebih efektif dan bermakna.
Persamaan antara Ilmu dan Agama
Ilmu pengetahuan (sains) dan agama berusaha untuk berurusan dengan sekurang-kurangnya hal yang sama, yaitu kebenaran, dan bertindak atas dasar pembentukan kebenaran. Ilmu pengetahuan berusaha mencari kebenaran dengan metode Ilmiah melalui penelitian, sedangkan agama berusaha menjelaskan kebenaran melalui wahyu dari Tuhan. Jadi kedua tujuannya sama, yaitu kebenaran.
Perbedaan antara Ilmu dan Agama
Ilmu pengetahuan bersumberkan kepada ra’yu (akal, fikiran, budi, rasio, nalar dan reason) manusia untuk mencari kebenaran.
Agama berusaha menjelaskan, mengungkapkan, dan membenarkan suatu kebenaran yang bersumberkan dari wahyu Tuhan.
Kaidah pencarian kebenaran:
Ilmu pengetahuan (sains) mencari kebenaran dengan menggunakan kaidah atau metode penyelidikan (research), pengalaman (empiris), dan percobaan (eksperimen).
Dalam agama kaidah itu berlaku saat manusia mengembara mencari kebenaran dalam agama atau bertanya dan berusaha mencari jawaban di berbagai kitab suci dan masalah dasar tentang ilahaiyah. (Hilmy Farid, Mahasiwa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, UIN Syarif Hidayatullah)




