Datateks.id, Jakarta — Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI memastikan situasi di Caracas, Venezuela, mulai kondusif menyusul konflik antara negara tersebut dengan Amerika Serikat (AS). Juru Bicara atau jubir Kemlu RI Yvonne Mewengkang mengungkapkan, tidak terlihat fenomena panic buying di negara belahan Amerika Selatan itu.
“Secara umum KBRI (Kedutaan Besar RI) Caracas melaporkan situasi keamanan dan aktivitas sosial di Caracas mulai kondusif dan menunjukkan peningkatan. Pasar swalayan telah beroperasi kembali, dan tidak terlihat adanya fenomena panic buying di tengah warga,” ujar Yvonne dalam keterangan tertulis, dikutip pada Selasa (6/1/2026).
Baca Juga: Senyum Ceria Murid SD di Hari Pertama Kembali Masuk Sekolah Pasca-Banjir Aceh Tamiang
Bukan hanya itu. Menurut Yvonne, pom bensin untuk umum juga telah dibuka. Alhasil, mobilitas kendaraan di jalan-jalan utama mulai ibu kota Venezuela, Caracas, tampak normal.
Pun demikian berdasarkan pantauan langsung KBRI Caracas per tanggal 5 Januari 2026. Sebanyak 37 warga negara Indonesia atau WNI di Venezuela dalam keadaan aman. Mereka dapat berkomunikasi dengan KBRI sekalipun jaringan belum sepenuhnya stabil.
“Masih terdapat gangguan jaringan komunikasi provider nasional di wilayah Caracas dan pemadaman listrik di salah satu wilayah Caracas,” Yvonne menjelaskan.
Rencana Kontigensi
Lebih jauh Yvonne menyampaikan, Indonesia terus mencermati perkembangan yang terjadi di Venezuela. Untuk itu, Indonesia telah menyiapkan rencana kontigensi apabila diperlukan.
Di sisi lain, Indonesia meminta semua pihak untuk menahan diri dan mengedepankan dialog serta menghormati hak dan kehendak Venezuela dalam menjalankan kedaulatan serta menentukan sendiri arah dan masa depan bangsa mereka.
“Kemenlu bersama KBRI Caracas telah memiliki contingency plan terkait situasi keamanan di Venezuela yang akan diberlakukan sekiranya dibutuhkan sesuai dengan perkembangan situasi terkini. Serta, mengimbau WNI untuk terus siaga,” Yvonne Mewengkang memungkasi.
Penangkapan Presiden Nicolas Maduro
Serangan AS dan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dianggap puncak dari tekanan selama berbulan-bulan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap Venezuela. Tak urung, penangkapan tersebut menuai kecaman dari sejumlah pemimpin internasional.
Pada Sabtu dini hari, 3 Januari 2026, militer AS menangkap Maduro dan sang istri Cilia Flores. Penangkapan diawali serangan pasukan Negeri Adidaya tersebut.
Pihak Gedung Putih menyebut Maduro sebagai pemimpin yang tidak sah. Setelah itu, Maduro dan istri digelandang ke AS.
Trump telah mendesak Maduro menyerahkan kekuasaan dan menuding mendukung kartel narkoba. Penguasa Gedung Putih itu menuduh Maduro dan kartel narkoba bertanggung jawab atas ribuan kematian warga AS yang terkait dengan penggunaan narkoba ilegal. (DTT/Ans)










