Datateks.id, Jakarta — Di tengah derasnya degradasi moral yang menggerus generasi muda, muncullah pelita harapan dari sebuah masjid bernama Nurul Iman, atau akrab disapa “Nurim” oleh warga sekitar. Masjid ini kini menjadi pusat perhatian ribuan umat di bilangan Duren Sawit, Jakarta Timur. Tempat ibadah umat Islam itu menarik para pemuda, orang tua, hingga lansia untuk merangkul kembali cahaya iman.
Terletak di Jalan Teratai Putih, Taman Blok 18, Perumnas Klender, Kelurahan Malaka Sari, Kecamatan Duren Sawit, Masjid Nurul Iman dulunya hanya ramai saat salat berjemaah seperti masjid-masjid lain. Kini, masjid tersebut menjadi teladan inspiratif.
Betapa tidak? Masjid tersebut dipenuhi kegiatan hampir selama 24 jam, karena keasyikan jemaah yang lupa waktu saking nikmatnya beribadah. Remaja, orang tua, dan lansia berbaur seperti keluarga, mengikuti kajian kitab kuning, diskusi Islami, hingga sharing muhasabah.
Baca Juga: Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Kuak Hasil Ratas di Istana, Apa Saja?
Hal ini senada dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barang siapa membangun masjid bagi Allah untuk mengharapkan keridaan-Nya, niscaya Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah dalam surga” (HR al-Bukhari, Muslim, dan at-Tirmizi dari Usman bin Affan). Di sini, peran masjid bukan lagi tempat sepi, tapi panggung reuni spiritual. Ini menciptakan ikatan ukhuwah yang abadi.
Dampaknya begitu nyata dan mengharukan. Banyak pemuda yang dulu terjerumus dalam hobi maksiat, seperti nongkrong malam hari, pergaulan bebas, atau tenggelam di dunia maya, kini berubah total. Mereka tersentuh saat pertama kali memasuki masjid ini hingga merasakan kedamaiannya.
“Rata-rata jemaah masjid sekarang yang usianya 30-40 tahun, dulunya merupakan mantan pemabuk. Kini, mereka berubah signifikan menjadi pribadi yang lebih baik, karena mengikuti majelis dan kegiatan di Masjid Nurul Iman. Bahkan, setiap kegiatan di masjid turut berperan aktif,” tutur Fauzan Akbar Novianto selaku Ketua Pemuda Masjid Nurul Iman, belum lama ini, dikutip datateks.
“Di kalangan remaja Masjid Nurul Iman, ada yang namanya anak lapangan. Di antara mereka, status dulunya itu nakal. tapi semisalkan ada acara, mereka turut meramaikan, saling dinasehatin, dan berbagi pengalaman,” Akbar menambahkan.
Pun demikian Rafly Akbar Ramadhan. Sekretaris Masjid Nurul Iman tersebut turut berbagi kegembiraan.
“Masjid ini beda dengan masjid lain. Banyak masjid lain hanya ramai saat salat berjemaah, kecuali Masjid Nurim saja yang setiap harinya diisi kegiatan terus-menerus, dari tahfidz pagi hingga diskusi malam,” ujar Rafly.
Fenomena Nurul Iman ini menjadi cermin harapan. Di era digital yang penuh godaan, sebuah masjid bisa menjadi magnet spiritual yang menyatukan generasi. Warga Duren Sawit takjub menyaksikan pemuda mereka berlomba bermanfaat, mengisi waktu dengan ilmu agama, dan menjauhi dosa. Suatu perubahan yang lahir dari hati yang haus akan petunjuk Ilahi. (DTT/HF)












