Datateks.id, Jakarta — Setelah rumah sakit kembali berfungsi, Kementerian Kesehatan atau Kemenkes memasuki tahap lanjutan penanganan bencana Sumatera, terutama fokus pada pemulihan layanan kesehatan primer melalui puskesmas di wilayah terdampak.
Saat konferensi pers update penanganan bencana Sumatera di Graha BNPB, Jakarta, Rabu, 7 Januari 2026, Menteri Kesehatan atau Menkes Budi Gunadi Sadikin menyatakan tahap pemulihan puskesmas menjadi tantangan yang lebih berat. Sebab, jumlah fasilitas yang terdampak jauh lebih banyak dibandingkan rumah sakit.
Berdasarkan hasil pendataan, terdapat 867 puskesmas terdampak bencana di 3 provinsim, yakni Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar). Dari jumlah tersebut, 152 puskesmas mengalami kerusakan berat hingga harus menghentikan operasional sementara.
Baca Juga: Swasembada Pangan, Presiden Prabowo Sebut Tak Ada Bangsa Merdeka bila Ketergantungan Impor
Upaya pemulihan berlangsung secara bertahap. Mulai dari pembersihan lokasi, relokasi layanan sementara, hingga pembangunan ulang bagi fasilitas yang mengalami kerusakan total. Hingga awal Januari 2026, sebagian besar puskesmas telah kembali melayani masyarakat.
“Sampai awal Januari 2026, tinggal 3 [puskesmas] lagi yang belum bisa beroperasi,” Menteri Budi mengungkapkan, dilansir laman resmi Kemenkes pada Kamis (8/1/2026).
Ketiga puskesmas tersebut, yakni Puskesmas Rusip Antara di Aceh Tengah, Puskesmas Jambur Lak Lak di Aceh Tenggara, dan Puskesmas Lokop di Aceh Timur. Menkes menjelaskan, Puskesmas Lokop mengalami kerusakan paling parah akibat tertimpa kayu besar hingga bangunannya hancur.
“Yang [di] Lokop ini benar-benar sudah hancur, jadi sekarang sedang kita bangun baru,” Menkes menambahkan
Buat memastikan layanan tetap berjalan, operasional puskesmas yang rusak dialihkan sementara ke gedung lain. Misalnya, kantor dinas atau fasilitas pemerintah setempat.
Menkes Budi menekankan, peran puskesmas sangat vital, tidak hanya memberikan pelayanan kesehatan harian bagi masyarakat. Namun, juga dalam melayani ratusan ribu pengungsi yang tersebar di lebih dari seribu titik pengungsian. (DTT/Ans)












