Datateks.id, Jakarta — Setiap tahun, Ramadhan disambut penuh euforia. Masjid dipenuhi jemaah, media sosial ramai ucapan selamat, dan berbagai program religi bermunculan. Namun, pertanyaan yang jarang diajukan adalah: apakah Ramadhan benar-benar mengubah diri kita, atau hanya menjadi tradisi tahunan tanpa makna mendalam?
Menjelang Ramadhan tiba, aktivitas ekonomi pun meningkat drastis. Pasar dan pusat perbelanjaan kini dipadati masyarakat. Sementara itu, masjid mulai menyusun agenda tarawih dan tadarus. Fenomena ini menunjukkan bahwa Ramadan memiliki dampak sosial luas. Namun, apakah kita sadar bahwa peningkatan aktivitas tersebut sejalan dengan peningkatan kualitas spiritual?
Allah SWT berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Al-Baqarah:183)
Dari ayat ini tentunya mengandung banyak pelajaran berharga berkaitan dengan ibadah puasa. Mari kita petik hikmah di dalamnya dibalik makna ayat yang mulia ini. Di antaranya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
“Wahai orang-orang yang beriman.”
Dari penggalan ayat ini menunjukkan bahwa perintah Allah ditujukan secara khusus kepada mereka yang memiliki iman. Dalam konteks puasa, kewajiban tersebut hanya diistimewakan kepada orang beriman. Seruan ini menuntut kesungguhan dan kepatuhan dalam menjalankan perintah-Nya. Allah Ta’ala memerintahkan puasa kepada orang-orang beriman dan menerima amal tersebut dari hati yang dilandasi iman. Dengan demikian, puasa menjadi salah satu tanda kesempurnaan keimanan seseorang.
Puasa adalah Pembentukan Karakter
Definisi puasa bukanlah sekadar menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, puasa merupakan proses pembentukan karakter yang melatih kedisiplinan, kesabaran, serta kepekaan sosial seseorang.
Umat Muslim menahan diri dari makan, minum, serta hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun, esensi puasa tidak berhenti pada aspek fisik saja. Ia mengajarkan pengendalian diri; kemampuan yang menjadi fondasi utama dalam membangun karakter yang tangguh. Maka dari itu, hendaknya ia tidak berkata kotor, keji, dan tidak berbuat bodoh. Pesan ini menegaskan bahwa puasa melatih lisan, emosi, dan sikap dalam kehidupan sehari-hari.
Diriwayatkan oleh imam Bukhari (no. 1761) dan Muslim (no. 1946):
عن أَبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قال : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : قَالَ اللَّهُ : كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِه
“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shallallahu’alai wa sallam bersabda, Allah berfirman di dalam hadis qudsi-Nya: ‘Semua amal anak Adam untuknya, kecuali puasa. Ia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.’”
Dalam hal ini, puasa dikhususkan dalam hadis qudsi tersebut karena keistimewaannya yang tidak dimiliki oleh amalan ibadah lainnya, meskipun semua ibadah dibalas Allah Ta’ala, sebagaimana dijelaskan Al-Qurthubi dan Ibnul Jauzi.
Pertama: Puasa tak terlihat manusia, hanya Allah yang tahu pelaksanaannya, sehingga ikhlas menjadikannya mutlak. Al-Qurthubi rahimahullah berkata: “Amalan lain dapat berpotensi riya’, tapi puasa adalah rahasia dengan Allah,” dan hadis qudsi menyatakan “Dia menahan syahwatnya demi Aku.”
Kedua: yang dimaksud dengan “aku yang akan Membalasnya” adalah “sesungguhnya aku sendiri (Hanya allah satu-satunya) yang mengetahui kadar pahala dan jumlah kelipatannya.” Balasan puasa diserahkan langsung oleh Allah tanpa kelipatan tetap seperti amal lain (10-700 kali lipat). Dalil hadis Muslim: Setiap amal dilipatgandakan kecuali puasa, Allah balas tanpa batas, seperti yang dijelaskan dalam QS. Az-Zumar: 10, “Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.”
Di era digital, tantangan Ramadhan semakin kompleks. Tantangan di sini tidak hanya soal lapar dan dahaga saja, melainkan di antaranya distraksi media sosial, arus hiburan tanpa batas, hingga budaya konsumtif yang sering kali menggeser fokus dari ibadah. Tanpa kesadaran, Ramadhan bisa berlalu hanya sebagai rutinitas musiman yang meriah di awal, tetapi redup di akhir, tanpa adanya refleksi mendalam.
Ramadan seharusnya menjadi ladang tarbiyah yang melatih ketakwaan dan pembentukan karakter. Jika setelahnya tidak ada perubahan dalam akhlak dan kebiasaan, maka yang berubah hanyalah kalender, bukan jiwa. Momentum ini menjadi kesempatan bagi setiap Muslim untuk memastikan bahwa Ramadhan tidak berhenti sebagai tradisi tahunan, melainkan menjadi titik awal transformasi diri yang berkelanjutan.
Semangat dalam bulan Ramadahn bukanlah semangat dan kerajinan beribadah yang tak henti-hentinya, melainkan semangat untuk menjadi muslim sejati yang gemar berintropeksi diri sekaligus lebih baik dari sebelumnya. Khususnya, semangat itu tercermin dalam kegembiraan menyambut kedatangan Ramadan serta ketekunan menjalankan ibadahnya. Sebagaimana yang dijelaskan dalam maqolah ulama yaitu:
مَنْ فَرِحَ بِدُخُوْلِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلَى النِّيْرَانِ
“Barangsiapa yang bergembira atas kedatangan bulan Ramadan, maka Allah akan mengharamkan jasadnya dari api neraka.” (Hilmy Farid, Mahasiwa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, UIN Syarif Hidayatullah)












