HEADLINENASIONALPERISTIWA

Tragedi Bocah SD di NTT Bunuh Diri, Begini Tanggapan Istana

×

Tragedi Bocah SD di NTT Bunuh Diri, Begini Tanggapan Istana

Sebarkan artikel ini
Mensesneg Prasetyo Hadi menjelaskan agenda Taklimat Presiden Prabowo Subianto dengan rektor serta pimpinan perguruan tinggi negeri dan swasta pada Kamis (15/1/2026), di halaman tengah Istana Kepresidenan Jakarta. (Foto: Dok. BPMI Setpres)
Mensesneg Prasetyo Hadi menjelaskan agenda Taklimat Presiden Prabowo Subianto dengan rektor serta pimpinan perguruan tinggi negeri dan swasta pada Kamis (15/1/2026), di halaman tengah Istana Kepresidenan Jakarta. (Foto: Dok. BPMI Setpres)

Datateks.id, Jakarta — Tragedi seorang bocah sekolah Dasar atau SD yang bunuh diri menuai beragam tanggapan dari berbagai kalangan, termasuk pihak Istana. Menteri Sekretaris Negara atau Mensesneg Prasetyo Hadi menyatakan keprihatinan mendalam terhadap insiden tragis siswa SD yang mengakhiri hidupnya di NTT. Ia sekaligus menyampaikan kejadian tersebut telah menjadi atensi Presiden Prabowo Subianto.

“Kami tentunya mewakili pemerintah menyampaikan keprihatinan yang mendalam, dan kami telah berkoordinasi dengan jajaran terkait. Karena bagi kami, bagi kita semua, ini adalah kejadian yang seharusnya tidak boleh terjadi,” ujar Menteri Pras kepada wartawan di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu malam, 4 Februari 2026.

“Oleh karena itulah, Bapak Presiden menaruh atensi. Dan melalui kami, meminta kami untuk berkoordinasi supaya ke depan hal-hal semacam ini dapat kita antisipasi,” Mensesneg menambahkan.

Baca Juga: Hadiri Pemakaman Meriyati Hoegeng, Kapolri Listyo Sigit Beri Penghormatan Terakhir

Bukan hanya itu. Menteri Prasetyo mengatakan pula, kementeriannya telah berkoordinasi dengan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, kemudian Menteri Sosial Saifullah Yusuf. Terutama untuk memperhatikan kondisi keluarga korban, yang diketahui berada dalam kategori miskin ekstrem (desil 1). Menteri Pras menambahkan, dirinya juga telah berkoordinasi dengan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti.

“Kami sudah berkoordinasi dengan Menteri Dalam Negeri, kami sudah berkoordinasi dengan Menteri Sosial untuk melakukan penanganan-penanganan terhadap keluarga. Dan terutama memikirkan supaya kejadian ini tidak terulang kembali,” ucap Pras, sapaan akrab Prasetyo Hadi.

Sehubungan adanya informasi keluarga korban tidak mendapatkan bantuan sosial atau bansos lantaran persoalan administrasi, Menteri Pras menyatakan pemerintah menunggu hasil penyelidikan kepolisian.

“Biarlah kita tunggu dari pihak berwajib, pihak kepolisian untuk melakukan pendalaman,” Mensesneg menegaskan.

Pras menekankan pula pentingnya merawat kepedulian sosial di seluruh tingkatan. “Kita harus meningkatkan kepedulian sosial di antara kita semua dari setiap level, tingkatan.”

“Bagaimana pun selain di faktor keluarga, faktor lingkungan, juga di sekolah menjadi sangat penting, edukasi, dan terutama berkenaan dengan masalah mental adik-adik kita supaya jika mengalami sebuah tekanan, atau mengalami sebuah permasalahan untuk dapat menyampaikan kepada guru-guru mereka di sekolah. Semua upaya kita coba cari supaya kita mengantisipasi, supaya tidak terjadi kembali,” sambung Pras.

Seperti diberitakan sebelumnya, seorang anak berinisial YBR (10) ditemukan meninggal gantung diri di pohon di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, NTT pada Kamis, 29 Januari 2026. Polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan saat mengevakuasi jasad siswa kelas IV SD itu. Surat ditujukan kepada ibundanya, inisial MGT (47).

Isi Surat

Tulisan tangan YBR (10), siswa kelas IV pada salah satu sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), sebelum ditemukan tewas gantung diri. (Sumber Foto: Istimewa)
Tulisan tangan YBR (10), siswa kelas IV pada salah satu sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), sebelum ditemukan tewas gantung diri. (Sumber Foto: Istimewa)

Kertas Tii Mama Reti (Surat untuk mama Reti) Mama Galo Zee (Mama pelit sekali) Mama molo Ja’o Galo mata Mae Rita ee Mama (Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis) Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne’e gae ngao ee (Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya ee) Molo Mama (Selamat tinggal mama).

Surat berbahasa daerah Bajawa itu ditulis oleh YBR dan ditujukan kepada ibunya. Hingga kini, kepolisian setempat masih menyelidiki latar belakang peristiwa itu. Termasuk, dugaan kekecewaan korban yang tidak dibelikan peralatan tulis berupa buku dan pena seharga Rp10.000 oleh ibunya karena terkendala ekonomi keluarga.

Kontak Bantuan

Bunuh diri bukanlah jawaban. Terlebih, solusi dari semua permasalahan hidup yang acapkali menghimpit. Bila Anda, teman, saudara ataupun keluarga yang Anda kenal sedang mengalami masa sulit, dilanda depresi dan merasakan dorongan untuk bunuh diri. Sangat disarankan menghubungi dokter kesehatan jiwa di fasilitas kesehatan, puskesmas ataupun rumah sakit terdekat.

Bisa pula mengunduh aplikasi Sahabatku: https://play.google.com/store/apps/details?id=com.icreativelabs.sahabatku

Atau menghubungi Call Center 24 jam Halo Kemenkes 1500-567 yang melayani berbagai pengaduan, permintaan, dan saran masyarakat.

Anda juga bisa mengirim pesan singkat ke 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat surat elektronik (surel) kontak@kemkes.go.id. (DTT)