OPINISYIAR

Ustaz Sutan Al Wanda, Alumni Pesantren Al-I’tishom, Tembus Top 28 AKSI Indosiar: Simak Perjalanannya!

×

Ustaz Sutan Al Wanda, Alumni Pesantren Al-I’tishom, Tembus Top 28 AKSI Indosiar: Simak Perjalanannya!

Sebarkan artikel ini
Ustaz Sutan Al Wanda. (Foto: Datateks/Hilmy Farid)
Ustaz Sutan Al Wanda. (Foto: Datateks/Hilmy Farid)

Datateks.id – Dari asrama sederhana Pesantren Al-I’tishom di Jakarta Selatan, Ustaz Sutan Al Wanda bangkit menorehkan prestasi luar biasa: tembus Top 28 Akademi Sahur Indonesia (AKSI) Indosiar 2026, ajang dakwah bergengsi nasional. Perjalanan penuh liku sang dai muda tersebut kini menginspirasi jutaan umat, membuktikan dakwah tak mengenal batas.

Kisah Ustaz Sutan Al Wanda ibarat teladan islami yang menguatkan iman, menginspirasi banyak hati, serta menautkan jiwa dalam ketulusan dakwah. Dari grogi berceramah pertama kali di panggung SD saat buka puasa bersama hingga bersinar di panggung layar kaca Indosiar. Semua bermula saat ia masih kanak-kanak.

“Dulu ketika SD, saya pernah disuruh ceramah saat buka puasa bersama. cuma ya keadaan masih grogi, masih memegang teks, masih inilah, Ibarat kata tuh masih malu-malu,” kenang Sutan, saat ditemui datateks, belum lama berselang.

Awal Ketertarikan Dunia Dakwah dan Prestasi di Pesantren

Justru dari situ lahir hasrat kuat untuk masuk pesantren agar lancar berceramah dan mampu berdakwah di depan khalayak ramai. Ia diterima di Pesantren Al-I’tishom di kawasan Tanjung Barat, Jakarta Selatan yang biayanya terjangkau.

Setelah 1 sampai 2 tahun, pelatihan muhadhoroh membuka jalannya untuk mengikut lomba. Ia meraih juara di tingkat SMP sekaligus diamanahi berceramah di sebuah sekolah oleh ustazah Evi, putri pimpinan pesantren sekaligus kepala sekolah SD-nya saat itu.

Pada masa SMA, ia mewakili Al-I’tishom dan meraih juara 1 antarpesantren se-Jagakarsa. Pra-Covid-19, ia meraih juara 2 dalam lomba se-Jabodetabek.

Seusai lulus pesantren, pandemi menghantui hidupnya. Sutan sempat bekerja sebagai cleaning service atau office boy di mal selama 6 bulan dengan gaji maksimal Rp1.200.000. “Yang namanya saat Covid ya cari kerja susah.”

Melanjutkan Pendidikan di Maskanul Huffadz

Sebagai santri haus ilmu, ia bertanya kepada paman bernama Endang (43) karena ingin beralih ke bidang pemasaran. Tiba-tiba, paman memberi informasi beasiswa di Pesantren Ustazah Oki. Ia mendaftar secara diam-diam tanpa sepengetahuan orang tua, mencantumkan seluruh prestasi pondok pesantren yang dimilikinya. Alhamdulillah, ia dinyatakan lolos meski terkendala ijazah SMA yang belum diambil.

Orang tuanya berupaya mencari pinjaman dana ke berbagai pihak. Berkat tanggungan biaya yang telah terpenuhi, ijazah akhirnya diambil sehingga ia melanjutkan pendidikan di Maskanul Huffadz selama satu tahun.

Bergabung dengan Tim Dakwah Ustazah Oki
Menjelang akhir masa pembelajaran di Maskanul Huffadz, Sutan ditunjuk menyampaikan ceramah pada kegiatan 40 harian yang dihadiri orang tua asuh dari kalangan donatur. Penampilannya dinilai baik hingga menarik perhatian pimpinan pesantren, termasuk Ustadzah Oki, yang mengajaknya bergabung dalam tim dakwah untuk penggalangan dana (fundraising).

Pada 2023, ia aktif mendampingi dakwah ustazah Oki di berbagai kota Indonesia.
“Dari lelahnya, letihnya, nikmatnya, hingga syukurnya, ya Alhamdulillah kami nikmatin,” Sutan menuturkan.

Keikutsertaan dalam Program Pendidikan Dai

Saat menjadi pengurus di Maskanul Huffadz, ia mengikuti Program Akademi Dai Muda (ADDeM) yang diselenggarakan oleh Yayasan Islam Cinta Indonesia atau Gerakan Islam Cinta (GIC) pada 2024. Setelah menyelesaikan masa pendidikannya di Maskanul Huffadz, ia melanjutkan pendidikan strata satu (S1) pada jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di Al Hikmah Jakarta.

Selain itu, ia lulus Pendidikan Kader Mubaligh Koordinasi Dakwah Islam (PKM KODI) DKI Jakarta selama satu tahun. ia juga menjadi perwakilan DKI Jakarta dalam Program Dai Muda Kementerian Agama RI pada Agustus 2025.

Seleksi AKSI Indosiar

Pada periode serupa, ia mengikuti seleksi AKSI Indosiar, namun saat itu belum dinyatakan lolos. “Proses seleksinya ketat, meliputi tahap Zoom, wawancara, tes bahasa arab, serta penilaian pengalaman dan keilmuan dakwah,” Sutan mengungkapkan.

Ia menambahkan, peserta juga diminta berceramah secara spontan selama 1 menit dengan waktu persiapan sekitar 15 sampai 30 detik berdasarkan tema yang diberikan secara mendadak. Nah, pengalaman tersebut kemudian menjadi nilai tambah bagi Sutan hingga berhasil menembus Top 28 AKSI Indosiar.

Ustadz Sutan Al Wanda, bersama Top 28 AKSI Indosiar.
Ustadz Sutan Al Wanda, bersama Top 28 AKSI Indosiar.

Strategi Dakwah Betawi

Ustaz Sutan menerapkan prinsip dakwah Rasulullah SAW:

يَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا وَلاَ تُنَفِّرُوا

(“Permudahlah dan jangan mempersulit, berikanlah kabar gembira dan jangan membuat orang lari”). (HR. Al-Bukhari no. 69, 6125; Muslim no. 1734).

Dakwahnya mudah dicerna dengan humor Betawi agar pesan sampai dari hati ke hati.
Ia tekankan Surah An-Nahl ayat 125 melalui bil hikmah (kebijaksanaan untuk generasi muda) dan mauizatul hasanah (nasihat santun, persuasif, dan merangkul tanpa menyalahkan). “Kita sama-sama saling merangkul dan berbagi pendapat,” ujar Sutan.

Pesan untuk Generasi Muda

Sutan menekankan jangan melupakan jasa orang baik, bersandar pada tokoh saleh sebagai sumber penguat iman. Ia juga menekankan agar tidak meremehkan setiap amal kebaikan, terutama bakti kepada orang tua.

Menurut dia, Pesantren Al-I’tishom menjadi wasilah utama dalam membentuk kemampuan berceramah, muhadharah, dan keterampilan berbicara di depan umum. Ia turut menyampaikan bahwa keberkahan bimbingan almarhum KH Marzuki Arman Abduh memberikan pengaruh besar dalam perjalanan dakwahnya.

Penilaian tersebut diperkuat oleh ustazah Evi, putri pimpinan Pesantren Al-I’tishom. Ia menyebut Sutan sebagai santri yang giat, serius menuntut ilmu, serta disiplin dalam ibadah, khususnya latihan muhadharah. Menurut dia, semangat pantang menyerah menjadi kunci keberhasilan Sutan hingga mampu menembus ajang AKSI Indosiar meski sebelumnya gagal seleksi 2025.

Ia menekankan, pencapaian ini bukan hanya membanggakan pesantren. Namun juga bukti kesungguhan menjaga niat mengharumkan nama orang tua, guru, serta pondok berbuah hasil. “Alhamdulillah, awal Ramadan 2026 ia masuk Top 28 AKSI dan menjadi kebanggaan kami sebagai pendidiknya,” ucapnya.

Keberhasilan ini tegaskan: proses panjang, ketekunan, adab ilmu antar santri dari panggung sederhana menuju panggung dakwah nasional. (Hilmy Farid, Pengamat Dakwah Ustadz Sutan, Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, UIN Syarif Hidayatullah).