JAKARTA, Anggota Komisi VI DPR RI Budi Sulistyono atau Kanang mendorong PT Pos Indonesia (Persero) mempercepat transformasi bisnis dengan memanfaatkan jaringan yang menjangkau hingga wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) serta memperluas kerja sama strategis di sektor logistik.
Hal itu disampaikan Kanang dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI DPR RI bersama Direktur Utama PT Pos Indonesia, Senin (22/6).
Dalam rapat tersebut, Kanang mengaku prihatin melihat kondisi kinerja PT Pos yang masih menghadapi berbagai tantangan. Meski demikian, ia optimistis perusahaan pelat merah itu masih memiliki peluang besar untuk kembali tumbuh apabila mampu mengoptimalkan berbagai keunggulan yang dimiliki.
“Kalau melihat angka-angka yang dipaparkan memang cukup mengkhawatirkan. Tetapi saya optimistis PT Pos bisa kembali tumbuh jika seluruh pihak memiliki komitmen yang sama untuk memperkuat perusahaan ini,” ujar Kanang.
Menurut dia, PT Pos memiliki sejumlah kekuatan yang tidak dimiliki banyak perusahaan logistik lain, mulai dari sejarah panjang perusahaan, nilai merek yang telah dikenal masyarakat, hingga jaringan yang tersebar sampai pelosok Indonesia.
Kanang menilai jaringan PT Pos hingga wilayah 3T merupakan aset strategis yang harus dimanfaatkan untuk memperkuat posisi perusahaan di industri logistik nasional.
“Jaringan sampai ke daerah 3T itu kekuatan besar. Tidak semua perusahaan memiliki kemampuan menjangkau wilayah sejauh itu,” katanya.
Ia menegaskan tantangan utama PT Pos saat ini bukan terletak pada kurangnya aset atau jaringan, melainkan bagaimana manajemen mampu menerjemahkan berbagai keunggulan tersebut menjadi layanan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan dunia usaha saat ini.
Menurut Kanang, masyarakat menginginkan layanan logistik yang cepat, aman, transparan, dan terjangkau sehingga PT Pos perlu beradaptasi dengan perkembangan industri dan perubahan perilaku konsumen.
Selain itu, Kanang mendorong PT Pos lebih agresif membangun kerja sama strategis dengan perusahaan logistik global maupun domestik untuk memperluas pasar dan meningkatkan daya saing.
Ia mencontohkan perusahaan logistik internasional DHL yang dinilai berhasil mengembangkan jaringan distribusi barang bernilai tinggi dan berkecepatan tinggi di berbagai negara.
Menurut dia, kerja sama dengan DHL dapat menjadi peluang bagi PT Pos untuk menggarap pasar logistik internasional, termasuk mendukung kebutuhan distribusi dan ekspor berbagai BUMN ke pasar global.
“Kalau perlu bekerja sama dengan DHL. Kita punya jaringan sampai daerah-daerah, mereka punya jaringan internasional. Ini bisa menjadi kekuatan bersama untuk mengembangkan bisnis logistik,” ujar Kanang.
Di sisi lain, ia juga mendorong PT Pos membangun kolaborasi dengan perusahaan logistik nasional untuk memperkuat penguasaan pasar domestik yang terus berkembang, terutama seiring pertumbuhan perdagangan digital dan distribusi barang antardaerah.
Menurut Kanang, kolaborasi dengan pelaku logistik lokal dapat menjadi langkah strategis untuk memperluas layanan sekaligus meningkatkan efisiensi operasional perusahaan.
Lebih lanjut, ia meminta PT Pos lebih aktif menawarkan layanan logistik kepada kementerian, lembaga, dan BUMN agar kebutuhan distribusi barang milik negara dapat dikelola oleh perusahaan nasional.
Ia menilai sinergi antar-BUMN dan instansi pemerintah dapat menjadi sumber pertumbuhan baru bagi PT Pos di tengah persaingan industri logistik yang semakin ketat.
“Semua kementerian dan BUMN membutuhkan layanan logistik. Ini peluang besar yang harus ditangkap PT Pos untuk memperkuat bisnis dan meningkatkan pendapatan perusahaan,” pungkas Kanang.








