EKONOMINASIONAL

Iwan Setiadi Soroti Paradoks Ekonomi: Inflasi Baik, tapi Rupiah Melemah dan IHSG Tertekan

×

Iwan Setiadi Soroti Paradoks Ekonomi: Inflasi Baik, tapi Rupiah Melemah dan IHSG Tertekan

Sebarkan artikel ini

Datateks.id, Ekonom Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan Jakarta, Dr. Iwan Setiadi, menyoroti tekanan yang terjadi di pasar keuangan Indonesia setelah rupiah melemah dan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG terkoreksi tajam.

Iwan menilai, kondisi tersebut menunjukkan adanya paradoks dalam pembacaan ekonomi nasional. Di satu sisi, inflasi masih relatif terkendali. Namun di sisi lain, pasar keuangan justru menunjukkan tekanan kuat.

“Dolar naik, IHSG ambruk, tetapi inflasi disebut baik. Kalau dilihat dari kacamata akademik, ini paradoks. Pasar memberi sentimen negatif, sementara pemerintah menyampaikan narasi positif,” ujar Iwan, Minggu (5/6/2026).

Menurut Iwan, tekanan terhadap IHSG tidak bisa semata-mata dibaca sebagai koreksi teknikal. Ia menyebut, penyusutan nilai pasar yang besar menunjukkan adanya gangguan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi dan arah kebijakan.

“Sekitar Rp 500 triliun kapitalisasi pasar tergerus. Ini bukan berarti seluruhnya dana keluar, tetapi menunjukkan nilai pasar turun sangat besar dalam waktu singkat,” kata dia.

Pada perdagangan 4 Juni 2026, IHSG melemah tajam dan investor asing masih mencatatkan jual bersih di pasar saham.

Tekanan juga terjadi pada rupiah. Data Bank Indonesia menunjukkan kurs referensi JISDOR berada di level Rp 18.095 per dollar AS pada 5 Juni 2026, melemah dari Rp 17.931 per dollar AS sehari sebelumnya.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik mencatat inflasi tahunan Mei 2026 sebesar 3,08 persen. Secara bulanan, inflasi tercatat 0,28 persen.

Iwan mengatakan, inflasi yang terkendali memang menjadi indikator positif. Namun, indikator tersebut tidak cukup untuk menenangkan pasar apabila nilai tukar melemah, arus modal asing keluar, dan investor membaca adanya risiko kebijakan.

“Dalam teori ekonomi, inflasi yang terkendali seharusnya memberi ruang stabilitas. Tetapi ketika rupiah melemah dan IHSG jatuh bersamaan, berarti pasar sedang membaca risiko lain,” ujar Iwan.

Ia juga menyoroti pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menyebut kondisi ekonomi Indonesia masih baik dan akan terus membaik di tengah tekanan pasar saham.

Menurut Iwan, optimisme pemerintah penting untuk menjaga psikologi pasar. Namun, optimisme itu harus diikuti langkah konkret untuk memperkuat kepercayaan investor.

“Pasar tidak cukup diyakinkan dengan pernyataan bahwa ekonomi baik-baik saja.

Pasar butuh bukti: stabilitas rupiah, kepastian fiskal, tata kelola pasar modal, dan arah kebijakan yang konsisten,” kata dia.

Iwan juga menilai Indonesia perlu mewaspadai pergeseran minat investor ke negara lain di kawasan, termasuk Vietnam, yang dinilai semakin kompetitif dalam menarik arus modal asing.

“Investor global sangat rasional. Mereka akan bergerak ke pasar yang memberi kombinasi terbaik antara stabilitas, kepastian, likuiditas, dan prospek pertumbuhan,” ujar Iwan.

Ia menegaskan, tekanan terhadap rupiah dan IHSG harus menjadi peringatan bagi pemerintah agar tidak hanya mengandalkan narasi makro yang positif.

“Kalau inflasi baik, tetapi dollar naik dan IHSG ambruk, persoalannya bukan sekadar harga barang. Persoalannya adalah kepercayaan. Dalam pasar keuangan, trust adalah modal paling mahal,” pungkas Iwan.